PerusahaanNusantara.com/Kupang 8 juni 2026 Nama Mayor Jenderal TNI (Purn.) Salmon Hermanus Michiel Lerrick merupakan salah satu sosok penting dalam sejarah kepemimpinan Nusa Tenggara Timur. Perjalanan hidupnya mencerminkan perpaduan antara ketegasan seorang prajurit, kebijaksanaan seorang birokrat, dan dedikasi seorang pendidik bangsa. Dari medan pengabdian militer hingga kursi Wakil Gubernur NTT, Lerrick meninggalkan warisan kepemimpinan yang masih dikenang hingga kini.

 

Lahir di Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan, pada 24 Maret 1944, Lerrick tumbuh sebagai putra daerah yang kelak mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk bangsa dan tanah kelahirannya. Setelah menempuh pendidikan di Akademi Militer pada kecabangan Kavaleri, ia lulus pada tahun 1965 dengan pangkat Letnan Dua. Menariknya, ia dikenal sebagai salah satu taruna termuda di angkatannya.

 

Sejak awal karier militernya, Lerrick dikenal sebagai perwira yang disiplin, tegas, dan memiliki kemampuan kepemimpinan yang kuat. Karakter tersebut mengantarkannya menempati berbagai posisi strategis di lingkungan TNI Angkatan Darat. Pada periode 1980 hingga 1986, ia dipercaya menjadi instruktur di Akademi Militer. Dalam peran ini, ia turut membentuk generasi perwira masa depan, termasuk salah satu taruna yang kemudian menjadi Panglima TNI, yakni Jenderal TNI (Purn.) Moeldoko.

 

Kariernya terus menanjak ketika pada tahun 1989 ia dipercaya menjabat sebagai Komandan Korem 161/Wira Sakti. Jabatan ini menempatkannya sebagai salah satu figur sentral dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban di wilayah Nusa Tenggara Timur. Salah satu tugas bersejarah yang diembannya adalah mengawal kunjungan Paus Yohanes Paulus II ke Maumere. Kepercayaan tersebut menjadi bukti kemampuan dan integritasnya dalam mengelola situasi strategis yang melibatkan perhatian nasional maupun internasional.

 

Pengabdian Lerrick memasuki babak baru ketika pada 21 Agustus 1991 ia dilantik sebagai Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur oleh Menteri Dalam Negeri Rudini. Dalam posisi tersebut, ia mendampingi Gubernur Hendrikus Fernandez dan kemudian Herman Musakabe selama periode 1991–1996.

 

Masa jabatannya sebagai Wakil Gubernur diwarnai salah satu tragedi terbesar dalam sejarah NTT, yakni Gempa Bumi Flores tahun 1992. Bencana dahsyat yang menelan ribuan korban jiwa dan menghancurkan berbagai fasilitas publik itu menjadi ujian besar bagi kepemimpinannya. Di tengah situasi darurat, Lerrick tampil sebagai sosok pemimpin yang sigap dan responsif. Ia turun langsung ke lapangan, mengoordinasikan berbagai pihak, serta memastikan proses penanganan dan pemulihan berjalan secepat mungkin.

 

Kemampuan manajerial dan kepemimpinannya dalam menghadapi krisis mendapat pengakuan luas. Pada awal tahun 1994, ia memperoleh kenaikan pangkat menjadi Brigadir Jenderal TNI. Penghargaan tersebut menjadi salah satu bentuk apresiasi atas pengabdiannya di lingkungan pemerintahan dan militer.

 

Setelah menyelesaikan masa tugas sebagai Wakil Gubernur pada tahun 1996, Lerrick tidak berhenti mengabdi. Ia melanjutkan kiprahnya di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) sebagai pengajar dan pembina kader kepemimpinan nasional. Pada tahun 1997, ia resmi menyandang pangkat Mayor Jenderal TNI, sebelum akhirnya memasuki masa purnatugas pada tahun 1999.

 

Meski telah pensiun dari dinas aktif, semangat pengabdiannya tidak pernah padam. Ia tetap aktif memberikan pemikiran dan kontribusi dalam bidang kepemimpinan, tata kelola pemerintahan, dan pembangunan sumber daya manusia.

 

Dalam kehidupan pribadi, S.H.M. Lerrick dikenal sebagai sosok yang sederhana, berintegritas, dan menjunjung tinggi nilai-nilai keluarga. Bersama sang istri, Anna Istiati Soetomo, ia menjalani kehidupan yang jauh dari sorotan, namun penuh keteladanan.

Pada 16 Juni 2017, bangsa Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya. Mayor Jenderal TNI (Purn.) S.H.M. Lerrick wafat di Bogor dan dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan pengabdiannya kepada negara.

 

Warisan yang ditinggalkan Lerrick tidak hanya berupa jabatan dan prestasi, tetapi juga nilai-nilai kepemimpinan yang relevan hingga hari ini: disiplin, integritas, keberanian mengambil keputusan dalam situasi krisis, serta komitmen untuk terus melayani bangsa dalam berbagai peran.

 

Dari seorang taruna muda di Akademi Militer, menjadi komandan, wakil gubernur, hingga pendidik kepemimpinan nasional, perjalanan hidup Mayor Jenderal TNI (Purn.) S.H.M. Lerrick adalah kisah tentang pengabdian tanpa henti bagi Indonesia dan Nusa Tenggara Timur.

 

#SHMLerrick

#MayjenLerrick

#TokohNTT

#SejarahNTT

#InspirasiKepemimpinan

Redaksi